Para Pemimpin Muda Diajak Jadi Inisiator

Para Pemimpin Muda Diajak Jadi Inisiator

Para Pemimpin Muda Diajak Jadi Inisiator . Bencana alam merupakan suatu kejadian yang tidak dapat diprediksi dan dapat menimbulkan kerugian yang besar bagi masyarakat. Dalam menghadapi bencana, peran relawan sangatlah penting. Relawan bencana berperan dalam memberikan bantuan dan dukungan kepada korban bencana serta membantu dalam proses pemulihan pasca bencana.

Di Indonesia, terdapat banyak organisasi relawan bencana yang aktif dalam memberikan bantuan dan dukungan kepada korban bencana. Namun, masih terdapat kekurangan dalam hal jumlah relawan yang terlibat dalam kegiatan ini. Oleh karena itu, para pemimpin muda diajak untuk menjadi inisiator dan terlibat dalam relawan bencana.

Para pemimpin muda memiliki potensi dan keterampilan yang dapat digunakan untuk membantu masyarakat dalam menghadapi bencana. Mereka memiliki semangat, energi, dan kreativitas yang dapat diarahkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya penanggulangan bencana.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh para pemimpin muda adalah dengan bergabung dalam organisasi relawan bencana. Dengan bergabung dalam organisasi tersebut, mereka dapat mengikuti pelatihan dan mendapatkan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi bencana. Selain itu, bergabung dalam organisasi relawan bencana juga memberikan kesempatan untuk berkolaborasi dengan relawan lainnya dan belajar dari pengalaman mereka.

Selain bergabung dalam organisasi relawan bencana, para pemimpin muda juga dapat menjadi inisiator dalam membentuk kelompok relawan bencana di lingkungan sekitar mereka. Mereka dapat mengajak teman-teman sebaya dan masyarakat sekitar untuk bergabung dalam kelompok ini. Dengan membentuk kelompok relawan bencana, mereka dapat melakukan kegiatan-kegiatan seperti simulasi evakuasi, penyuluhan tentang penanggulangan bencana, dan membantu dalam proses pemulihan pasca bencana.

Tidak hanya itu, para pemimpin muda juga dapat menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan informasi tentang penanggulangan bencana. Mereka dapat membuat konten-konten edukatif tentang penanggulangan bencana dan membagikannya kepada teman-teman dan masyarakat luas. Dengan menggunakan media sosial, informasi tentang penanggulangan bencana dapat dengan cepat dan mudah tersebar, sehingga masyarakat dapat lebih siap dalam menghadapi bencana.

Para pemimpin muda juga dapat menjadi teladan bagi masyarakat dalam menghadapi bencana. Mereka dapat melakukan aksi-aksi nyata dalam membantu korban bencana, seperti mengumpulkan dan mendistribusikan bantuan kepada mereka. Dengan melakukan aksi-aksi ini, mereka dapat menginspirasi orang lain untuk ikut terlibat dalam relawan bencana dan memperluas jaringan relawan yang ada.

Para Pemimpin Muda Diajak Jadi Inisiator

Sebagai pemimpin muda, terlibat dalam relawan bencana bukan hanya memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga memberikan manfaat bagi diri sendiri. Terlibat dalam relawan bencana dapat mengembangkan keterampilan kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, dan memperluas jaringan sosial. Selain itu, pengalaman dalam relawan bencana juga dapat menjadi modal yang berharga dalam karir di masa depan.

Para pemimpin muda memiliki peran yang penting dalam menghadapi bencana. Dengan menjadi inisiator dan terlibat dalam relawan bencana, mereka dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya penanggulangan bencana dan membantu masyarakat dalam menghadapi bencana dengan lebih baik. Oleh karena itu, mari kita dukung dan dorong para pemimpin muda untuk terlibat dalam relawan bencana.

Jakarta: Para pemimpin muda diajak untuk menjadi inisiator dan terlibat dalam relawan bencana. Ajakan ini datang dalam Talkshow untuk Pemimpin Muda bertajuk “Gerak Bersama, Tangguh Bencana di Wisma Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI), Kamis (14/12) siang.

Para Pemimpin Muda Diajak Jadi Inisiator

Shendy Ristandi selaku Community Engagement Coordinator Indorelawan yang menjadi narasumber dalam gelar wicara ini mengatakan, para pemuda khususnya pemimpin muda perlu menginisiasi upaya-upaya penanggulangan bencana. Pasalnya kaum muda memiliki kreativitas, jejaring, dan aksesibilitas yang diperlukan dalam upaya penanggulangan bencana tersebut.

“Misalnya menginisiasi pengadaan APAR (alat pemadam api ringan, Red.), atau menginisiasi adanya pusat evakuasi apabila terjadi bencana,” sebut Shendy.

Menurutnya, usia bumi yang makin tua menyebabkan potensi kebencanaan kerap terjadi. Termasuk juga anomali cuaca semisal cuaca terik yang tiba-tiba berganti hujan.

Banyaknya permasalahan kebencanaan inilah yang yang bisa dikulik oleh para pemimpin muda untuk menggali potensi apa yang bisa dilakukan untuk ikut berperan dalam penanggulangan bencana tersebut. Hal tersebut salah satunya bisa dilakukan dengan menjadi relawan kebencanaan.

“Esensi menjadi relawan adalah membuka akses bagi masyarakat yang tidak memiliki akses, misalnya akses politik atau akses pendidikan. Supaya dari situ terjadi ada community building untuk memberdayakan masyarakat,” beber Shendy.

Sementara itu narasumber lainnya Titi Moektijasih selaku Humanitarian Affairs Analyst at U OCHA memaparkan, pentingnya koordinasi oleh para relawan dalam upaya penanggulangan bencana. Salah satunya koordinasi denga pemerintah. Supaya upaya yang dilakukan bisa berkesinambungan.

Para Pemimpin Muda Diajak Jadi Inisiator

“Betapa pentingnya koordinasi, dalam hal ini harus ada yang mengarahkan. Itulah yang kami dorong,” kata Titi seraya menyebut koordinasi bisa berjalan baik dengan mekanisme bersama yang memiliki rencana, piranti, rutinitas, peran, serta kedekatan.

Menurut Titi, masalah dan tantangan yang dihadapi para pelaku kemanusiaan salah satunya adalah perlunya koordinasi. Ada banyak organisasi dan relawan, bagaimana agar kesemuanya ini bisa saling terkoneksi.

“Tantangan terbesar di Indonesia adalah bagaimana mengoordinasikan ribuan organisasi dalam penanggulangan bencana pada tiga fase. Yaitu sebelum bencana, saat bencana, dan setelah bencana,” beber Titi.

Karenanya diperlukan kolaborasi yang bersifat pentahelix yang melibatkan lima pihak. Meliputi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan juga media. Dari situlah maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membentuk Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB).

“Maka keluarlah Klaster Nasional Penanggulangan Bencana yang bekerja pada seluruh fase, saat tanggap darurat melebur dengan SKPDB melalui bagian operasi,” terang Titi.

menpora

Jejak Sejarah Kelembagaan Kemenpora dari masa ke masa

Tonggak sejarah kelembagaan yang mengurusi pembangunan kepemudaan dan keolahragaan sebenarnya sudah ada sejak masa awal kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana penelusuran tim tentang sejarah pengelolaan kegiatan olahraga dan pemuda oleh negara diketahui pada susunan Kabinet pertama yang dibentuk pada tanggal 19 Agustus 1945. Kabinet yang bersifat presidensial memiliki Kementerian Pengajaran yang dipimpin oleh Menteri Ki Hajar Dewantoro. Kegiatan olahraga dan pendidikan jasmani berada di bawah Menteri Pengajaran. Istilah pendidikan jasmani dipergunakan dalam lingkungan sekolah sedangkan istilah olahraga digunakan untuk kegiatan olahraga di masyarakat yang berupa cabangcabang olahraga. Usia kabinet pertama yang kurang dari tiga bulan kemudian diganti dengan Kabinet II yang berbentuk parlementer di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang dilantik pada tanggal 14 November 1945.

Tangan Kanan MengepalMerupakan wujud Tekad, Semangat, Kokoh, Teguh, Kemauan kuat Pemuda untuk menjaga Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta Bhineka Tunggal Ika

Tiga pilar pada tangan mengepal : mempunyai makna ketiga peristiwa sejarah yaituKebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928 dan Kemerdekaan Indonesia 1945 yang Pelaku utamanya adalah Pemuda.

Warna Biru : mempunyai makna lambang/simbolik : Keliasan Pandangan dan Pikiran, Smart, Bergerak Maju, Inovatif dan Inspiratif, Kedewasaan, Kematangan, Penguasaan Ilmu Pengetahuan, dan Dinamis